Kegilaan
Masih Ada
Maaf
Masih Ada
Hanya Kamu
Hei kamu!
Aku mencintaimu, karena kamu adalah kamu
kamu yang selalu menjadi dirimu
tak mau sembarang turuti apa yang orang mau
selalu berusaha buktikan jatimu
walau jalan tampak terjal berbatu
Kamu, ya, kamu!
orang yang aku mau hanya kamu
jangan nakal, tetaplah lurus berlaku
buktikan, kamu pantas menjadi priaku
Ingatlah kamu
aku di sini tak ingin hanya menunggu
aku juga ingin dampingi harimu
walau duka pilu tengah berlalu
Kamu jangan lupakan aku
yang selalu setia menunggu
yang ingin bisa bersamamu
karena hanya denganmu, aku ingin berpadu
Keraguan
Pernahkah kau bayangkan, Sayang
Sakitnya gores cinta yang terbuang
nikmatnya nyeri hati yang tak pernah terkatakan
indahnya kekosongan pikiran seluas entah berapa kilan
Pernahkah kau rasakan?
sulitnya menerka hati orang tersayang
pernah kau coba membayang?
mungkin tidak, kau terlalu sibuk belajar terbang
Tahukah kau, Sayang
hati ini ingin selalu bersama
pikiran ini selalu meronta
kembali, selalu kembali teringat padamu di sana
Tapi apa daya bila kau berubah
tak lagi tunjukkan perhatian yang ramah
tak lagi pedulikan aku pulang melepas lelah
tak lagi acuhkan bilakah hatiku kan kau jamah
Sayang, aku terlalu lelah tuk slalu menunggu
tanyaku pun kini tak jarang kau acuh
jangan heran bila hati ini jadi meragu
tak henti menyangka kau telah jenuh
Haruskah aku pergi, Sayang?
sementara hati ini tenggelam dalam danau bayang
sungguh aku tak mampu melangkah tenang
seakan kaki ini membawaku ke padang gersang
Maukah kau mendengar mohonku ini?
kembalilah, seperti dahulu saat kita selalu berbagi
aku takkan sanggup bayangkan ku sendiri
jalani hari tanpa sandaran lagi
Gua Kita
Awal kebersamaan, semua terasa indah
Belajar mengerti, belajar memahami, belajar mengalah
Kita isi gua ini dengan hangatnya cinta
Kita hias gua ini dengan segala kasih yang kita punya
Goyah
Sayang, kini aku kembali
terluka di hati lagi
meragu dengan pilihan hati ini
Aku tlah mencoba, Sayang
belajar memegang kepercayaan
belajar percaya pada orang
dan orang itu kamu, Sayang
Kusandarkan hatiku sepenuhnya
kuberikan hatiku seutuhnya
tapi bila tak kau rawat dan jaga
tak urung kan memudar jua
Sungguh aku tak ingin mendua
walau restu bahkan telah kau kata
walau hatiku terus mendesak
bahkan mulai menilai lain pria
Aku bingung!
tak tahu ke mana ku bisa termenung
tempat ku dapat menangis meraung
lampiaskan hati yang tertutup mendung
Apa memang ini cobaan?
pertanda adanya perpisahan
atau sekedar bumbu suatu hubungan?
Haruskah aku menyerah?
atau haruskah aku pasrah?
Ah... tak tahulah aku
di sini hanya bisa menunggu
jawaban kan diberikan oleh waktu
Kisah dalam Hati
Sayang, tahukah kamu?
aku merasa sepi, teramat sepi dalam hatiku
tahukah kamu bagaimana perasaanku?
tidak, kamu mungkin takkan pernah tahu
toh aku tak pernah berniat memberi tahumu
Tahukah kamu, aku terus belajar
belajar membuka mata tuk melihat dunia luar
belajar membuka telinga tuk mendengar
belajar mengendalikan diri tuk lebih bersabar
belajar memahami cinta yang di sekolah tak pernah diajar
Sakit hati ini, Sayang
saat membuka mata dan melihat orang acuh berlalu lalang
saat membuka telinga dan hanya menangkap keluh kabar orang
saat mengendalikan diri dan ditampar orang yang menusuk dari belakang
saat memahami cinta yang ternyata tak seindah yang terpandang
Tapi semua itu tak perlu kau tahu
aku pun tak ingin mengganggumu
yang sedang serius buktikan adamu
biar aku saja yang rasa dan tahu
biar tanganku yang goreskan luka dan pilu
Kamu, Sayangku, tak perlu peduli
hanya akan buatmu resah hati
tak perlu kau sesali semua yang terjadi
Kisah ini, Sayang, hanya untuk dibaca sepintas lalu
dan bukannya untuk diresapi dalam kalbu
Kesepianku
Aku terduduk di tempat tidurku
menyadari tak seorang pun terdengar berlalu
menyadari hanya gemericik hujan dalam gendang telingaku
menyadari tak seorang pun mengingatku
Kutatap langit-langit kamar nanar
teringat orang tuaku bekerja dengan tekad terpancar
hanya satu tujuan, agar aku dapat terus belajar
tak hiraukan masalah, mereka cari uang dengan gencar
Teringat priaku yang sedang terbang membentangkan sayapnya
belajar menjadi pria sejati calon kepala rumah tangga
seringkali terlalu asyik dengan dunianya
tapi ku tahu, dia harus bisa tetap terbang
itulah caranya tunjukkan kemampuannya
Teringat pula teman-temanku yang semakin menjauh
tampak akrab tanpa pernah sadari pandanganku
kawan, aku ingin sekali menyatu!
tapi mengapa tak pernah kalian hiraukanku?
Saat ini duniaku hanyalah kamarku
tempatku merenung, membisu, dan terpaku
saat keluar hadapi dunia, aku tidak menjadi aku
Sesak, sungguh sesak himpitan di dada
ku bergelung di tempat tidur hanya berteman boneka
tak ada yang mengajak bicara, tak ada yang buatku tertawa
tetes demi tetes air mata di pipi bagai berlomba
kutahan isak yang nyaris bergema di udara
Tiap pulang dari dunia luar kusadari aku selalu sendiri
tak ada tempat berbagi cerita lagi
kini apa lagi yang harus kuhadapi?
Gores Luka Sang Rajapatni
Akulah Gayatri Rajapatni
hanya bisa haturkan sembah bekti
turuti apa yang bukan kehendak diri
semata taati darah dan gelar nan suci
Tak mampu sekalipun mulut terbuka
membantah apa mau Sang Baginda Wijaya
tak mampu pula berontak krama
demi perjuangkan hasrat dalam dada
Aku memang tak seperti Ayunda Tribhuana
yang biasa ditanya dan diajak bicara
analisis keadaan pemerintahan Baginda
Bukan pula seperti Ayunda Mahadewi
yang terkasih di antara permaisuri
tenangkan jiwa Raja tiap hari
Tidak pula seperti Ayunda Jayendradewi
teguh kukuh menjaga cinta suci
setia guru laki hingga mati
Apalagi seperti Indreswari Stri Tinuheng Pura
yang hanya bisa bermanja pada Kakanda
merengek mohon Kala Gemet Putera menjadi Raja
Aku, Rajapatni, berbeda!
walau terbiasa tundukkan kepala
bahkan kala ego diri meraja
Sang Baginda takkan mampu murka
hanya denganku Baginda bak Syiwa-Uma
hanya aku sang penurun penerus tahta
turunkan penerus yang lebih mulia dari Ayahandanya
Memang aku bukanlah puteri suci
aku telah berani membagi hati
menjalin kasih dengan lain lelaki
ksatria gagah idaman hati
tapi tlah usang seiring langkah menjadi permaisuri
Dalam diam ku berusaha
tetap tunduk tanpa mencela Baginda
semata pertahankan harga diri wanita
walau tuk itu harus berkorban rasa
Secercah Awan Kelabu
Pada suatu malam kelabu aku terhanyut dalam sepiku
belajar menyelami pikiran dan hatiku
menggoreskan kepedihan hati pada secarik kertas biru
meluapkan perih di hati yang semakin merasuk
Terasa luka hati makin terkoyak
dada ini menyesak, amat sesak!
tak mampu lagi menahan arus yang merangsak
tak tahan ku buka mulut untuk berteriak
Tapi tak ada suara yang terdengar
tak ada pula air mata yang keluar
dalam himpitan yang semakin kuat ku tersadar
memang tak ada juga yang kan mendengar
Ruang sekitarku semakin gelap dan memburam
cahaya dari jendela terlihat semakin temaram
kupandangi awan hitam di langit malam
sekelam hati yang sedang suram
Aku menyerah!
tak sanggup lagi ku berjalan tanpa arah
tanpa ada kawan dampingi melangkah
takkan cukup kuat kuseret hati yang berdarah
Dalam tubuh yang semakin melemah
terbaring dalam genangan darah yang tertumpah
sadarku terseret semakin jauh dalam lelah...





